Tag

, , , , , ,

Sebelum kita mengenal bidan dan dokter, bagaimanakah perempuan masa dahulu melahirkan? Bersyukur kita yang hidup dimasa sekarang, karena dimasa dahulu angka kematian ibu dan anak sangatlah tinggi disebabkan kurangnya peralatan yang dapat mendukung si ibu dalam melahirkan. Belum ada operasi sesar dahulunya.

Untuk itu kami mendapat dua buah kisah dalam hal adat kelahiran pada dua nagari di Luhak Agam ini dahulunya. Marilah kita simak, semoga dapat menjadi gambaran kasar bagi kita bagaimana orang dahulu dan di Kamang ini jalannya proses melahirkan tersebut.

Adat kelahiran di Nagari Matur sesuai dengan yang digambarkan oleh salah seorang guru Melayu:

Setelah bayi itu mulai tampak, maka disuruhnya perampuan itu menghajan kuat-kuat sehingga anak itu terpancar keluar dengan pusatnya yang panjang. Setelah itu, maka pusatnya yang panjang itu dipotonglah oleh dukun itu dengan sembilu dan ditinggalkannya kira-kira 10 d’im (inci) panjangnya. Adapun pengudungan itu dinamai orang juga kakak paja [“kakak si anak”, istilah yang biasanya dipakai untuk tembuni]. Adapun kakak paja itu dicuci bersih-bersih oleh dukun itu lalu dimasukkannya ke dalam sebuah periuk atau kampir dan ditutup baik-baik.

Setelah itu dipakai i-nyalah dirinya, diambilny api serta kakak paja itu, lalu dibawanya ke bawah rumah atau ke bawah lumbung. Maka disitulah digalikan atau dikuburkan kaka paja itu, dalamnya 1,5 hasta (75 cm), lalu ditimbuni padat-padat. Maka di atas lumbung itu diletakkannyalah api tadi, dan sudah itu dihimpit pula dengan batu yang dicorengnya dengan kapur, di atas batu diletakkannya pula sanduk nasi, lalu disungkut (ditutup) baik-baik dengan lakar(tutup anyaman rotan)..

Syahdan, adapun pusat anak itu yang tinggal di badannya tadi itu, apabila sampai 4 atau 5 hari jatuhlah sebab sudah kering, lalu diambil disimpan baik-baik, gunanya apabila anak itu kemudian kenya penyakit galang-galang (cacing gelang), maka direndam orang pusat itu dalam ayar (air), lalu diminumkan ayarnya kepada anak itu sedikit.

Goereo Sekola II “Adat perampoean hamil didalam Negeri Matoea” sekitar 1885. (Koleksi Naskah, Perpustakaan Universitas Leiden, schoolschrift, MS,Or.6006/VRSC682) seksi “Dari hal perampoean bersalin”, 3v-5v

Kemudian marilah kita tengok pula bagaimana adat kelahiran di Nagari Koto Gadang yang digambarkan oleh Soetan Sarit pada tahun 1890-an:

Adapun kakak paja itu dicuci bersih-bersih oleh dukun itu lalu dimasukkannya ke dalam sebuah periuk tanah yang baharu, disertainya dengan garam dan pemuro (pemburo, penyambur) yaitu lada kecil, dasun (bawang putih), jariangan (jengkol), dan kunit bolai ((bangle); sudah itu ditutup dengan sia-daun(ujung daun pisang).

Setelah sudah lalu diperbuatkan sebuah lolong (lubang) di bawah rumah kira-kira dua hesta dalamnya; di dalamnya itu di alas dengan daun terong asam. Sudah itu dimasukkan periuk tadi ke dalam lubang itu dan ditimbun dengan tanah dan sabelah atasnya ditimbun pula dengan abu panas serta dihimpit dengan batu gadang (besar).

Gunanya itu supaya semut atau binatang-binatang yang lain jangan masuk ke dalam periuk itu. Kata dukun, jika periuk itu dimasuki semut atau binatang-binatang yang lain, anak jadi sakit-sakit.

Di atas batu yang tersebut tadi disungkutkan sebuah lakar (ditutup dengan sebuah anyaman rotan) dan ditaruh sedikit duri lunak (satu bangsa tumbuh-tumbuhan kecil) gunanya itu supaya uri (ari-ari) itu jangan didaya (diganggu) iblis atau palasit.

Satelah uri itu sudah tertanam, maka dukun itupun menyambur (menyembur) dari anak sampai katempatnya dlaher (lahir) lalu katempat uri ditanamkan. Maksud supaya syethan dan iblis yang ada boleh mehindar.

Soetan Sarit “dari hal orang beranak di Kota Gedang: sekitar 1890 (Koleksi Naskah, Perpustakaan Universitas Leiden, schoolschrift, MS,Or.6005/VRSC681).