Sengketa Tiada Putus_Bag.3

Tag

, , , , , ,

MENYINGKAP
MUHAMMAD SALEH DATUAK RAJO PANGULU
PEMIMPIN UTAMA PERANG KAMANG

Pendahuluan
Sejarah adalah pengalaman sekelompok manusia. Kata “Sejarah” berasal dari bahasa Arab ”Asy-Syajarah” yang berarti Pohon. Menurut Ibnu Khaldun, istilah sejarah adalah “pengetahuan tentang proses-proses sebagai realitas dan sebab musababnya secara mendalam”. Sejalan dengan peredaran waktu, kadang kala sejarah tersebut ada yang dibelok-belokan/ditambahkan (make up history = sejarah yang mengada-ada) menuju kepada pemitosan sejarah untuk maksud tertentu, dan ada juga yang masih sesuai dengan realitanya (reality history). Begitu juga dengan sejarah Perang Kamang, pada saat ini telah terdiri dari 2 versi, dengan kronologis sebagai berikut :

  • Pertama :

Mengemukakan bahwa Perang Kamang itu disebabkan dikekuarkannya income belasteng (pajak) oleh Belanda. Dalam pertemuan dengan Kotrolir Oud Agam (Westennenk), Laras Kamang, Garang Dt.Palindih menyanggah dengan gigih bahwa Belasteng tidak mungkin dilaksanakan karena membenani rakyat. Tidak ada keputusan rapat. Para laras berjanji akan membicarakan dengan Ninik Mamak, alim ulama dan cerdik pandai terlebih dahulu. Garang Dt.Palindih bersama dengan cerdik  pandai yang bernama A Wahid Kari Mudo membawa masalah ini kepada Basa nan Barampek, seterusnya dibawa dalam sidang lengkap Ninik Mamak Kanagarian Kamang (sekarang Kamang Hilir). Atas dasar cupak nan salingka suku, adat nan salingka nagari, dimana Kamang sebagai penerus adat Koto Piliang, hiearkhinya adalah Basa nan Barampek, Pucuak nan Duo Puluah duo, Bungka nan Tangah Lapan Puluah merupakan pimpinan tertinggi tradisional di tengah-tengah masyarakat, pada tanggal 30 Maret 1908 telah membuat kesepakatan untuk tidak membayar belasting, dan sepakat “Mengangkat M. Saleh Dt. Radjo Penghulu Sebagai Pimpinan Perlawanan Menghadapi Belanda. Dt.Radjo Pangulu dalam waktu singkat berhasil menarik H.Abdul Manan, seorang tokoh ulama yang sangat disegani oleh kawan maupun lawan, untuk sama-sama berpijak diatas ajaran Islam dalam membimbing rakyat ke medan perang.

H.Abdul Manan berasal dari Bansa (Nagari Bukik = sekarang Kamang Mudiak). Dt.Rajo Pangulu bersama pemimpin Kamang lainnya mempersiapkan diri untuk menentang Belanda secara fisik. Akhirnya terjadilah serangan terhadap Tentara Belanda yang berada di Kampung Tangah oleh Pasukan Rakyat Kamang dibawah pimpinan Muhammad Saleh Dt.Rajo Pangulu. Meletuslah perang yang lebih termasyhur dengan Perang Kamang. Perang Kamang itu adalah “Suatu pertempuran yang kejam, parang basosoh di Kampung Tangah antara pasukan Belanda yang berada di sana dengan pasukan rakyat yang datang menyerbu dari Kamang (Kamang Hilir sekarang) dibawah pimpinan M.Saleh Dt.Rajo Pangulu”. Bersamaan dengan itu setelah terjadi serangan gelombang kedua oleh pasukan rakyat yang datang dari Kamang, datang pula pasukan rakyat dari Bansa yang digerakan oleh H.Abdul Manan dan kawan-kawan untuk menyerang tentara Belanda. Baca lebih lanjut

Sengketa Tiada Putus_Bag.2

Tag

, , , , , ,

BANTAHAN/PELURUSAN
UNTUK  USULAN PAHLAWAN NASIONAL H.ABDUL MANAN

 Hanya bangsa yang menghargai jasa pahlawannya menjadi bangsa yang besar, itulah yang selalu diucapkan oleh Presiden Sukarno untuk menghargai para pahlawan bangsa. Untuk merealisasikan hal tersebut Pemerintah Daerah Kabupaten Agam dan Propinsi Sumatera Barat telah berusaha untuk mengusung 3 (tiga) orang Pahlawan Anti Belasting, yaitu H.Abdul Manan, Muhammad Saleh Dt.Rajo Pangulu dan Siti Manggopoh, diusulkan untuk diangkat menjadi Pahlawan Nasional. Dimana ketiga usulan tersebut telah sampai ditingkat Propinsi Sumatera Barat. Setelah membaca usulan H.Abdul Manan untuk diangkat menjadi Pahlawan Nasional (karena usulan tidak memakai nomor, kami memberi nomor halaman mulai dari (SISILAH DAN RIWAYAT HIDUP H.ABDUL MANAN “PEMIMPIN PERANG KAMANG”), kami melihat adanya make up history (sejarah yang mengada-ada), yang tidak sesuai dengan fakta sejarah maupun fakta yang ada dilapangan, yang dapat dikelompokan menjadi :

  1. Waktu, pelaku sejarah dan eksistensi Laras/Kapalo Nagari yang keliru, diantaranya :a. Pada tahun 1877 H.Abdul Manan sekembali dari Mekah tinggal di Bukik Batabuah rumah istri pertama dan makin dekat Kapalo Nagari Bukik Batabuah, mereka mengadakan pertemuan dengan Angku Lareh Banuhampu-Sungai Pua, Marzuki Dt.Bandaro Panjang, yang memiliki kesamaan untuk menentang Belanda. (hal,3).

Ini tidak sesuai dengan fakta sejarah, karena:

  • Marzuki Dt.Bandaro Panjang baru menjabat Laras Banuhampu pada tahun 1899 menggantikan ”Tanu Dt.Marajo” yang meninggal April 1899, dia adalah teman baik Westennenk.
  • Dalam sistem kelarasan tidak ada Laras Banuhampu-Sungai Pua, yang ada Laras Banuhampu dan Laras Sungai Pua. Pada tahun 1860-an s/d th 1870-an Laras Banuhampu dijabat oleh Rajo Mantari, Laras Sungai Pua dijabat oleh Dt.Tumanggung. (Pemberontakan Pajak, Rusli Amran, 129-130).

Jadi disini nampak jelas sejarah yang mengada-ada tentang peranan laras Marzuki Dt.Bandaro Panjang dan H.Abdul Manan, begitu juga tentang eksistensi Laras Banuhampu-Sungai Pua

b. Pemberontakan itu juga dimungkinkan oleh jaringan para Kapalo Nagari dan para laras yang pernah membicarakan pungutan pajak oleh belanda (hal, 9-10).

Ini sangat keliru, sebab dalam sistem Kelarasan tidak ada yang namanya Kapalo Nagari. Yang ada dibawah lareh adalah Pengulu Kepala, dipilih dan diangkat oleh Laras, dan dibawah pengulu kepala ada Pangulu Suku, juga diangkat dan dipilih oleh Laras. Dari sekian banyak pengulu suku, hanya satu yang diberi besluit (semacam SK), inilah yang disebut dengan Pangulu Nan Basurek. Baca lebih lanjut

Sengketa Tiada Putus_Bag.1

Tag

, , , ,

Semenjak setahun nan silam telah dilakukan penyusunan sejarah Perang Kamang 1908 dalam hal ini menyangkut peranan beberapa orang tokoh yang menjadi pemimpin dalam perang tersebut. Sudah semenjak lama terjadi dua ragam cerita mengenai sejarah Perang Kamang yakni versi Kamang (Kamang Hilia) dan Babukik (Kamang Mudiak)

Versi Kamang menyebutkan tiga orang tokoh yang berperan sebagai pemimpin dalam menggerakkan masyarakat untuk menentang penetapan pajak (belasting) yakni Muhammad Saleh Dt. Rajo Pangulu, Haji Abdul Manan, dan Abdul Wahid Kari Mudo. Sedangkan versi Kamang Mudiak hanya mengakui Haji Abdul Manan dimana beliau merupakan anak nagari di Nagari Babukik.

Dalam perkembangannya, kedua versi sama-sama diajukan sehingga menimbulkan pertikaian yang merupakan kelanjutan dari pertikaian-pertikaian sebelumnya. Tentunya masyarakat menjadi cemas, khawatir, dan sedih mendapati ini semua.

Tokoh-tokoh yang sedang diperjuangkan untuk dijadikan pahlawan pada dasarnya tentunya dahulu sama sekali tiada berniat untuk dipuja, dielu-elukan, dan dibanggakan jasa dan nyawa yang telah mereka berikan. Sebab bagi mereka, perjuangan nan telah diberikan itu ialah karena jihad, semata-mata ikhlas karena Allah Ta’ala. Baca lebih lanjut

Berbuhul Mati

Tag

,

Surau yang berarsitektur Minang Gambar: http://baralekdi.blogspot.co.id

Labuh raya di bandar besar itu sangatlah ramai, amatlah payah bagi orang-orang nan hendak menyeberangi labuh itu. Para pengendara tiada hendak mengalah kepada orang-orang nan hendak menyeberang itu. Mereka semua sedang diburu waktu, mesti cepat sampai karena banyak hal nan mesti diurus. Pemandangan serupa itu tiada akan tuan dapati di kampung halaman kita.

Lepau nasi nan disebut orang “warung” di pulau ini telah silih berganti orang nan datang. Namun si empunya lepau terlihat tengah bersantai. Beberapa orang anak buahnya telah diarahkannya untuk bekerja, dia hanya melihat-lihat saja lagi.

“Tahukah engkau, apa perbedaan bandar ini dengan kampung kita?” tanya kawan kami disela-sela percakapan seputar kampung halaman nan teramat dirindukannya itu.

Kami terdiam, memandang hendak tahu. Tentulah banyak perbedaan kampung kami dengan bandar besar ini. Namun kami tiada hendak menjawab melainkan memasang roman bertanya kepada kawan kami itu.

“Dibandar ini, orang-orang hanya mematuhi hukum resmi nan berlaku di negara ini. Mereka tiada memiliki aturan adat, tiada punya alur dan patut, tiada berpagar negeri mereka..” jelas kawan kami ini.

Kami terdiam, suatu pemikiran nan telah lama mengawang-ngawang di benak kami namun enggan kami utarakan karena takut disangka orang gila. Jangankan aturan adat, aturan negara nan jelas-jelas mendapat sangsi nan sangat berat apabila dilanggar saja sudah berani dilanggar orang.

“Tapi, kami coba panadng-pandangi. Di kampung kita, adat itu tiada begitu diindahkan lagi. Adat hanya sebatas berkawin, mati, kelahiran, khatam kaji, batagak pangulu, atau yang dikatakan orang sekarang dengan ritual adat..” sambungnya

“Adat itu tak hanya prosesi atau ritual adat saja, melainkan juga aturan yang mengatur jalannya kehidupan kita. Adatlah nan mewarnai setiap langkah kita itu. Maka apabila ada nan janggal perbuatan kita, akan dikatakan orang tak beradat dimana perkataan itu merupaka lecutan nan amat menyakitkan bagi orang dahulu..” jelasnya Baca lebih lanjut