Rumah Gadang

Tag

, , , , ,

Waktu memahat tunggak tua rumah untuk perempun itu, melainkan perempuan itulah yang mengaduduki tunggak tua itu, dan kepadanyalah tukang tua minta’ izin waktu mula mencatak, artinya mula memahat tunggak tua itu; karena perempuan itulah yang punya tunggak tua itu, sedang tonggak yang lain-lain, melainkan jadi tonggak turutan saja kepada tonggak tua itu, artinya tonggak tua itulah yang rumah dan siapa yang punya tonggak tua itulah yang punya rumah; dan walaupun laki-laki yang menebang kayunya  atau yang membelinya; melainkan kedar menolong saja, maksudnya melainkan untuk perempuan juga; demikianlah pepanjang adat kita Alam Minangkabau, perempuanlah yang punya rumah, bukanlah sekali-kali laki-laki; dan anak perempuan atau binilah yang dibuatkan rumah; karena mereka itulah yang dimaksud dari bermula hendak membuat rumah, kecuali surau, lepau, kedai, atau toko tempat berniaga. [Datuk Sutan Maharaja, Pemimpin Koran Soeloeh Melajoe]

 

Kami yakin sudah menjadi pengetahuan kita semua bahwa rumah dan harta pusaka itu ialah berpulang kepada perempuan adapun gelar pusaka berpulang kepada laki-laki. Namun kami pernah mendengar ada beberapa orang nan berkata bahwa tanah itu merupakan haknya dari harta pusaka keluarganya. Orang yang menyebut itu baik laki-laki atapun perempuan. Baca lebih lanjut

Iklan

Di tangan perempuan

Tag

, , , ,

Tak salah orang menjulukinya Bundo Kanduang dari Alam Minang..

Pikirannya tertuju kepada kaum ibu yang akan melahirkan pemuda harapan bangsa. Kaum Ibu yang hendak melahirkan manusia yang dikehendaki Illahi itu harus dibina sedemikian rupa hingga generasi yang dilahirkannya pasti sanggup memikul beban KHALIFAH di muka bumi ini. Usaha paling berat tapi harus dilaksanakan.

Itupun kalau kita meyakini bahwa hidup ziarah sebentar ke dunia ini benar-benar untuk menyelamatkan keluarga, menyelamatkan suku, menyelamatkan pulau, menyelamatkan bangsa dan atau untuk menyelamatkan dunia ini.

Karenanya pandangan utama harus ditujukan ke.. RUMAH TANGGA.

[Leon Salim. Rahma el Yunusiyah Satria Wanita dari Alam Minang” dalam Hajjah Rahmah el Yunusiyah dan Zainudin Labay el Yunusy: Dua Bersaudara Tokoh Pembaharu Sistem Pendidikan di Indonesia. Ed. Aminudin Rasyad (Jakarta: Pengurus Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang, 1991), 125-127]

Terkenang kami dengan kaji tuanku di surau “Biak buruknya suatu bangsa ditentukan dari perempuannya. Baik perempuannya maka baik pula bangsa tersebut, buruk perempuannya maka buruk pula bangsa tersebut..” Baca lebih lanjut

Gelar tinggal Gelar..

Tag

, , ,

Mencontoh ke nan elok

Kaciak banamo, gadang bagala..

Sudah menjadi kelaziman pada masa sekarang di nagari kita dalam keseharian orang saling menyebut nama dalam bertukar sapa. Hal tersebut sudah menjadi sesuatu yang biasa dan justeru terasa janggal apabila ada yang menyebut gelar, terutama bagi lelaki muda yang baru berumah tangga.

Kami tiada pula faham kenapa dapat serupa itu, pernah mendengar seorang lelaki muda yang baru tak berapa lama berumah tangga berkata “Sebut nama sajalah engku, jauh kita rasanya kalau dipanggil kami dengan gelar..” Baca lebih lanjut

Datuak Rajo Pangulu

Tag

, , , , ,

Marsose Belanda Gambar: http://ristadiwidodo.blogspot.co.id

PROFIL
MUHAMMAD SALEH DATUAK RAJO PANGULU
PIMPINAN PERLAWANAN SUMATERA BARAT MENENTANG

BELANDA DI KAMANG 15 JUNI 1908

Oleh: Hirwan St. Saidi

Muhammad Saleh Datuak Rajo Pangulu (1873 – 1908), pemimpin utama Perang Kamang yang meletus 15 Juni 1908, seorang mujahid yang lahir tahun 1873 M  dari  pasangan suami istri Solihin dan  Alam nabi di kampung Gurun Jorong Joho dari pasukuan Sikumbang. Sewaktu kecil Dt.Rajo Pangulu dipanggil Saleh, sesuai dengan nama yang diberi oleh orang tua beliau yakni Muhammad Saleh. Hidup dikampung bersama orang tuanya. Seperti anak-anak Kamang lainnya pada masa tersebut, pendidikan yang beliau tempuh adalah pendidikan surau.

Disurau beliau belajar mengaji, belajar silat dan adat. Untuk memperdalam ilmu silat beliau belajar kepada guru silat yang ternama baik berada di Kamang maupun di luar Kamang. Untuk mendalami tentang adat, beliau  mendatangi dan menimba ilmu dari para pemangku adat di Nagari Kamang. Dengan adanya bakat dan kemauan yang kuat dalam mempelajari ilmu silat dan adat, setelah dewasa beliau menjadi seorang guru silat yang tersohor tidak hanya di Kamang, bahkan sampai ke luar Luhak Agam, seperti Padang Panjang, Malalo, Pandai Sikek dan lain-lain. Dari segi kemampuan beliau dalam bidang adat dan perhatian beliau kepada kaum, beliau memenuhi syarat untuk menjadi seorang penghulu. Akhirnya dengan kesepakatan kaum, beliau diangkat menjadi seorang penghulu pucuk yaitu Datuak Rajo Pangulu. Sebagai seorang datuak beliau aktif dalam kerapatan Niniak Mamak Nagari Kamang.   Baca lebih lanjut